Cingebul
Description
Menurut keterangan dari informan, pada masa perang Diponegoro kurang lebih tahun 1929, saat pasukan Diponegoro mulai terpukul mundur oleh pasukan Belanda, ada dua prajurit Pangeran Diponegoro bernama Wirantaka dan Naya Pati yang terpisah dari pasukannya, mereka berjalan tanpa arah karena tidak tahu wilayah Banyumas. Dalam pelariannya, sampailah pada suatu tempat di antara dua bukit di selatan Karangpucung untuk dijadikan tempat persembunyian mereka. Karena dirasa aman mereka menetap di sana, lalu bersama Suradiporata (keluarga prajurit Pajajaran) mendirikan sebuah padepokan untuk menyebarkan agama Islam.
Satu waktu sebelum matahari terbit, para santri setelah melaksanakan sholat subuh dan pengajian bersama, mereka bercengkrama sambil bakar singkong di pinggir sungai, tiba-tiba Suradipota melihat ada asap keluar dari atas air di hulu sungai. Dalam keheranannya Suradipota berteriak sambil menunjuk ke arah hulu sungai ‘oe..cai ngebul…, cai ngebul..’, seorang santri yang mendegarnya berlari ke padepokan untuk melaporkan pada Wirantaka supaya melihat kejadian tersebut. Kepada Wirantaka santri itu berkata, ‘aya cai ngebul.., cai ngebul..”. Setelah melihat langsung, Wirantaka menyatakan bahwa daerah tersebut adalah daerah Cingebul. Sampai sekarang pun, menurut informan, beberapa warga masih ada yang suka melihat air di sana mengeluarkan asap.
Penamaan bersifat konvensional dan arbitrer. Hal ini dikatakan konvensional karena disusun berdasarkan kebiasaan masyarakat pemakainya, sedangkan dikatakan arbitrer karena tercipta berdasarkan kemauan masyarakatnya. Beberapa nama tempat di Desa Cingebul diubah namanya oleh masyarakat setempat karena memiliki makna yang negatif. Pertama Bojanegara, awalnya daerah tersebut bernama Ciwikwik (Bahasa Sunda: Ci ‘air’, wikwik ‘cerewet/banyak bicara’).
Dinamakan Ciwikwik karena di daerah tersebut orang-orangnya suka bertengkar beradu mulut. Begitu juga dengan nama tempat Rejasari yang dulunya bernama Cilutung (Bahasa Sunda: Ci ‘ air’, lutung ‘sejenis kera’). Diberi nama Cilutung karena sering ditemukan warga di sana berkelahi saling cakar seperti lutung. Sama halnya dengan Cingéprét (Bahasa Sunda: Ci ‘air’, ngéprét ‘tampar/menampar’) yang diubah namanya menjadi Karang reja, karena menurut informan konon di daerah Cingéprét warganya sering berkelahi, saling menampar dan memukul. Karena memiliki makna negatif nama-nama tempat itu diubah dengan harapan supaya warga masyarakatnya tidak berperilaku negatif.





