Gumelar
Gumelar

Gumelar

Description

Kata gumelar sendiri berasal dari bahasa Sunda gelar ‘terlihat dan bukti ada di dunia, lahir, ngampar’ yang dibubuhi sisipan -um-. Menurut cerita rakyat yang berkembang disana, dulunya daerah Gumelar ini sering dijadikan tempat berkumpulnya banyak orang untuk mengungsi atau bersembunyi. Karena banyaknya orang yang berkumpul disana terlihat seperti nu gumelar atau ngampar. Oleh karena itulah daerah tersebut diberi nama Gumelar yang sekarang menjadi nama desa dan juga kecamatan.

Konon di wilayah Gumelar ini dulunya banyak hidup binatang buas yang memangsa manusia. Di salah satu tempat bahkan sering ditemukan penduduk yang babak ‘terluka’ karena serangan binatang buas, sekarang kampung ini disebut kampung Babakan. Penduduk yang menemukan orang-orang yang terluka disana selalu menolongnya dengan cara membawanya dengan cepat ke suatu kampung yang sekarang diberi nama Ciwaras, waras dalam bahasa Sunda berarti sehat/sembuh.

Di Ciwaras ini ada orang pintar yang bisa menyembuhkan mereka yang terluka oleh serangan binatang buas. Jalur antara Babakan dan Ciwaras sekarang disebut dengan nama kampung Gancang, gancang dalam bahasa Sunda berarti cepat, buru-buru. Sedangkan bagi penduduk yang tidak tertolong atau meninggal karena serangan binatan buas itu, oleh penduduk lainnya dikumpulkan di suatu tempat untuk memudahkan keluarga atau kerabat mencari anggota keluarganya yang hilang. Menurut cerita, biasanya mayat-mayat tersebut hanya ditutupi oleh daun pisang atau daun jati. Setiap orang yang melewati tempat tersebut selalu nyingkabkeun (membuka) daun pisang atau daun jati yang menutupi karena ingin tau siapa yang meninggal. Oleh karena itu lah, tempat tersebut diberi nama Paningkaban.

Di Gumelar ada desa yang bernama Cionje. Cionje ini berasal dari kata ci + honje ‘nama tumbuhan yang buahnya suka dijadikan bumbu masak’. Diberi nama Cionje karena sampai sekarang pun di daerah tersebut banyak tumbuh honje. Di Desa Cionje ini ada satu daerah yang bernama Ciuyah. Wilayah Ciuyah berada di pingiran bukit hutan pinus milik perhutani. Disebut Ciuyah karena di wilayah itu ada sumber air yang mengeluarkan air yang rasanya asin seperti uyah ‘garam’. Air itu keluar dari kubangan batu dengan diameter sekitar tiga puluh sentimeter. Dari celah-celah batu nampak gelembung-gelembung air yang menandakan keluarnya sumber air. Hingga saat ini masyarakat sekitar masih memanfaatkan sumber air asin Ciuyah untuk ngasini yaitu tradisi memberikan air garam pada hewan ternak. Dahulu, tradisi ini dilakukan dengan cara membawa ternak peliharaannya ke sumber mata air asin tersebut.

Namun, sekarang warga hanya mengambil airnya saja lalu memberikan pada ternak peliharaannya di kandang. Menurut informan selain untuk tradisi ngasini, air asin yang keluar dari sumber mata air Ciuyah dulunya juga pernah dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk membuat garam. Dari penuturan warga sumber mata air tersebut tidak pernah kekeringan meskipun sedang kemarau panjang. Bagi masyarakat Ciuyah yang mayoritas bermatapencaharian sebagai buruh tani, keberadaan sumber mata air asin sangat bermanfaat terutama untuk hewan ternaknya.

Author Info

Avatar

Taufik Aras

Member since 6 tahun ago
View Profile